matematika emosional

mengapa konten kemarahan lebih cepat menyebar daripada konten bahagia

matematika emosional
I

Pernahkah kita menyadari apa yang terjadi pada jempol kita saat sedang berselancar di media sosial? Saat melihat video hewan peliharaan yang lucu, kita mungkin tersenyum. Kita menekan tombol like, lalu dengan santai lanjut menggulir layar. Namun, coba perhatikan saat kita melihat berita tentang ketidakadilan, kesombongan, atau opini yang sangat bertentangan dengan nilai hidup kita. Reaksi tubuh kita berubah drastis. Jantung berdegup sedikit lebih cepat. Napas menjadi lebih pendek. Tanpa sadar, jempol kita dengan beringas menekan tombol share atau mengetik komentar panjang yang berapi-api. Saya pun sering terjebak dalam siklus ini. Mengapa kita begitu mudah terpancing? Mengapa amarah seolah memiliki sayap untuk terbang, sementara kebahagiaan seakan berjalan merangkak di dunia maya?

II

Untuk menjawabnya, mari kita mundur sejenak ke masa lalu yang sangat jauh. Ribuan tahun yang lalu, nenek moyang kita hidup di lingkungan liar yang penuh ancaman mematikan. Pada masa itu, informasi tentang letak pohon buah yang manis memang menyenangkan. Namun, informasi tentang keberadaan predator buas di balik semak-semak adalah soal hidup dan mati. Otak kita perlahan berevolusi untuk selalu memprioritaskan ancaman. Dalam dunia psikologi, fenomena ini dikenal dengan istilah negativity bias. Otak kita bekerja seperti velcro atau perekat yang sangat kuat untuk hal-hal negatif. Sebaliknya, otak kita bertindak seperti wajan teflon yang licin untuk hal-hal positif. Sekarang, coba bayangkan otak purba yang selalu waspada ini tiba-tiba dijejalkan ke dalam era digital. Di sinilah para arsitek media sosial melihat sebuah celah. Mereka sangat paham bahwa perhatian kita adalah mata uang paling berharga saat ini. Lalu, apa yang paling cepat menyita perhatian otak purba kita? Jawabannya jelas: ancaman, konflik, dan amarah.

III

Namun, pertanyaannya kini berkembang menjadi lebih spesifik. Seberapa efektif sebenarnya kombinasi antara biologi purba kita dan algoritma modern ini? Para ilmuwan data dan pakar psikologi belakangan ini mulai menghitung fenomena tersebut secara nyata. Ya, teman-teman tidak salah baca. Emosi kita di dunia maya sekarang memiliki hitung-hitungannya sendiri. Ada sebuah rumus tak kasat mata yang menentukan seberapa jauh dan seberapa cepat sebuah unggahan akan meledak di internet. Para peneliti menemukan bahwa tidak semua emosi diproses setara oleh algoritma. Kesedihan sering kali membuat kita menarik diri. Kegembiraan membuat kita merasa cukup dan berhenti mencari. Tetapi, ada satu emosi spesifik yang bertindak layaknya bahan bakar roket tingkat tinggi bagi arus data. Emosi ini secara biologis menuntut tindakan dan menuntut untuk segera disebarkan. Tapi, seberapa eksak "bahan bakar" ini bekerja dalam memanipulasi rasio penyebaran informasi? Jawabannya mungkin akan membuat kita tercengang.

IV

Inilah yang oleh para ahli disebut sebagai matematika emosional. Sebuah studi masif dari para ilmuwan di Massachusetts Institute of Technology (MIT) pernah melacak pergerakan jutaan cuitan di Twitter. Temuan mereka sungguh menampar kesadaran kita: informasi palsu yang memancing rasa muak dan marah menyebar enam kali lebih cepat dibandingkan fakta yang benar dan netral. Mari kita bedah lebih presisi lagi. Seorang peneliti psikologi bernama William Brady beserta timnya menemukan sebuah metrik akurat tentang moral contagion atau penularan moral. Mereka menemukan fakta mengejutkan. Setiap kali kita menambahkan satu kata yang bermuatan emosi-moral—seperti "memalukan", "menjijikkan", atau "hancur"—dalam sebuah tulisan, tingkat penyebarannya akan meningkat secara pasti sebesar 20 persen. Coba kita hitung. Jika ada lima kata bernada amarah dalam satu kalimat, maka tingkat viralitasnya bisa melonjak hingga 100 persen. Secara matematis, kemarahan adalah hack atau jalan pintas paling efisien untuk mendongkrak engagement. Algoritma tidak memiliki nurani untuk peduli apakah konten tersebut mencerahkan atau justru menghancurkan masyarakat. Selama jempol kita terus bergerak marah, algoritma akan terus menyuapi kita dengan porsi kebencian yang lebih besar.

V

Mengetahui fakta sains ini mungkin membuat kita merasa seperti boneka yang sedang dikendalikan. Namun, di sinilah letak titik balik kita. Data dan fakta ini dibongkar bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan untuk mengembalikan kendali seutuhnya ke tangan kita sendiri. Kita bukanlah manusia yang rusak secara moral. Otak kita hanya sedang menjalankan program pertahanan diri purba yang sayangnya berhasil diretas oleh teknologi masa kini. Jadi, apa langkah rasional yang bisa kita ambil bersama? Lain kali, ketika kita merasakan dada berdesir panas saat melihat sebuah unggahan kontroversial, mari kita sepakat untuk berhenti sejenak. Tarik napas panjang. Sadari bahwa pada detik itu juga, ada persamaan matematika tak kasat mata yang sedang mencoba memanen amarah kita demi keuntungan pihak lain. Ingatlah bahwa kita selalu punya hak veto untuk merusak rumus tersebut. Kita bisa memilih untuk tidak menjadi titik penyebaran dalam jejaring amarah tak berujung itu. Memilih untuk tidak menekan tombol share saat sedang emosi mungkin terasa seperti langkah kecil. Namun, di tengah dunia maya yang terus-menerus memprovokasi kita untuk saling membenci, memilih untuk tetap tenang dan waras adalah bentuk perlawanan yang paling elegan.